Jepara - (03/11) Halqah Ulama NU se Jateng, DIY dan Jatim di Ponpes Raudlatuth Tholibin Kudus, Minggu (1/11) mengusung tema “Komitmen dan tanggungjawab NU dalam melawan terorisme melalui penyebaran nilai islam rahmatan lil alamin”. Kegiatan yang dimaksudkan untuk menjalin ukhuwah antar ulama, penjabaran tentang model ideal islam rahmatan lil alamin dan peningkatan peran pemberdayaan ajaran ahlussunah wal jama’ah dalam konteks berkebangsaan.
Hadir sebagai pembicara dalam halqah tersebut H. As’ad Said Ali, KH. Sa’id Agil Siradj, KH. Masdar Farid, H. Slamet Effendi Yusuf, H. Ulil Abshar Abdallah, sementara itu satu pembicara yang tidak hadir yaitu KH. Shalahuddin Wachid.
Problem utama warga NU adalah ekonomi, kalau dilihat dari hal itu maka kondisinya sangat memprihatinkan sehingga ini perlu adanya solusi yang lebih konkrit. Karena jangan sampai kondisi yang seperti ini akan berdampak lebih parah terhadap NU baik sosial maupun politik. Hal itu diungkapkan As’ad Said Ali, saat menjadi keynote speaker Halqah NU di Kudus.
Soal aqidah NU dihadapkan pada percaturan dengan kelompok-kelompok lain, syi’ah, wahabbi, jamaah tabligh ahmadiyah dan aliran-aliran sesat lainya yang saat ini berkembang begitu pesat. Sedangkat tugas yang musti diselesaikan oleh NU kedepan adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai rahmatan lil alamin ditengah-tengah ummat.dapat diperjuangkan secara politik dan ekonomi. Jelasnya.
Sementara itu KH. Aqil Siradj mengatakan, Islam itu tidak hanya dinul aqidah wa assyariah, faqod, tapi dinul ilmi wa tsaqofah, dinul taqodum wa khadoroh artinya Islam itu mudah diterima siapa saja dan bisa masuk dimana saja.
Ketika disinggung soal NU, Kiya dari Jawa Barat ini mengungkapkan, NU harus independen, lha bagaimana caranya, NU harus keluar dari politik, karena yang berjasa besar pada perkembangan Islam adalah ilmu ulama bukan siyasah ulama. NU harus dikembalikan kepesantren karena ini merupakan khittah NU. Khittah yang harus dijalankan oleh siapa saja yang ngrusi NU. Tegasnya.
Pada kesepatan yang sama H. Slamet Efendi Yusuf mengemukakan radikalisme dalam islam selama ini datang dari actor-actor yang berkarakter keras dan memiliki pemahamana terhadap Islam pas-pasan. Kalau berbicara radikalisme dan NU, maka NU harus menegaskan kembali sikapnya dan konsisten.
Menyoal NU kedepan, praktisi Partai Gokar ini mengatakan, NU harus menjadi trand center perkembangan Islam, karena selama ini NU merupakan kelompok Islam yang paling toleran. Namun NU sampai saat ini juga masih dihadapkan pada persoalan pengkaderan dan pengorganisasiaan.
Khittah dan Terorisme
Jam’iyah NU memiliki 40 % warga dari total orang Islam di Indonesia. Namun pada saat yang sama, penduduk miskin di Indonesia adala warga NU - sontak ini disambut gelak tawa hadirin – persoalanya selama 80 tahun NU tidak focus ngurusi ummat tapi NU justru sibuk di politik. Tidak berfikir soal pemberdayaan ekonomi warganya, kalau NU masih bersikap yadu sulfa maka dekte dari pemerintah akan sangat kuat. Disamping itu dengan kebangkitan ekonomi maka ada martabat yang dapat kita capai. Ungkap Kiyai Masdar Farid.
Masalah NU saat ini ada pada soal Ukhuwah, khittah yang menjadi agenda bersama harus dimaknai secara komprehensif, NU harus solid agar memiliki kewibawaan, NU harus kembali pada ummat, karena itulah pemaknaan yang sesungguhnya tentang khittah. Jelasnya.
Sedangkan Ulil Abshar Abdallah, menyinggung pemahaman terorisme sebagai sebuah pemikiran, terorisme sebagai sebuah isme adalah berangkat dari pemikiran dan gagasan. Terorisme tidak hanya selesai dilawan dengan power military (pendekatan kuratif), tapi terorisme sebagai sebuah isme harus dilawan dengan pendekatan Gagasan.
Untuk mengenali kelompok ini, caranya mudah kaau ada pengajian disitu disinggung kata jihad berkali-kali maka sudah jelas pengajian ini ada maksud tertentu, kalau selama ini jihad dimaknai secara defensive, berbeda dengan yang dilakukan oleh Sayid Kutub (baca: sang pemikir Jamaah Islamiah), Sayid kutub memaknai jihad secar ofensive, diaman bom bunuh diri adalah amaliyah istisyariah. Ungkapnya.
Lebih lanjut Ulil menegaskan problem pengkaderan yang dilakukan NU sampai saat ini tidak menyentuh wilayah perkotaan, sekolah-sekolah bahkan kampus-kampus umum. Sehingga jangan salahkan jika kemudian ini digarap orang lain. Pengurus PBNU di Jakarta, tapi mukhotobnya malah di desa dan lupa akan potensi besar kader NU di kota besar. Jelasnya.
Yang Muda..???
Tema halqah ini harusnya ditambah lagi soal korupsi, karena bahaya korupsi tidak jauh besar dibandingkan dengan teroris, korupsi yang punya andil besar dalam pembobrokan bangsa dan Negara ini. NU selama ini tidak focus menyikapi terorisme enenge mertanggung, orak jelas. NU itu seperti satpam, digunakan ketika dibutuhkan nak wes dibiarkan mojok koyok wong rak kanggo. Hal itu disampaikan KH. Mustofa Bisri saat memberikan Catatan akhir Halqah di Ponpes Raudlatuth Thalibin Jl. KHR. Asnawi No. 44 Bendan Kerjasan Kudus.
Tema halqah ini harusnya ditambah lagi soal korupsi, karena bahaya korupsi tidak jauh besar dibandingkan dengan teroris, korupsi yang punya andil besar dalam pembobrokan bangsa dan Negara ini. NU selama ini tidak focus menyikapi terorisme enenge mertanggung, orak jelas. NU itu seperti satpam, digunakan ketika dibutuhkan nak wes dibiarkan mojok koyok wong rak kanggo. Hal itu disampaikan KH. Mustofa Bisri saat memberikan Catatan akhir Halqah di Ponpes Raudlatuth Thalibin Jl. KHR. Asnawi No. 44 Bendan Kerjasan Kudus.
KH. Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus ini, menyampaikan problem NU itu, Pertama Soal kaderisasi NU selama ini belum menjawab dan mengakomodir hadirnya generasi muda yang lebih energik dan cekatan,” cobak sampean deleng, Berapa yuswonya KH. Hasyim Asy’ari , KH. Wahab Hasbullah saat mimpin NU masih sangat muda bahkan likuran” lho ngono iku rak dinggo ngilo karo wong NU, artine NU harus memberikan peluang pada generasi muda.
Kedua, Program, saya ingat dulu ketika muktamar terakhir, Mas Slamet menyusun Program kerja NU begitu rapinya, eh malah rak dinggo, karena tidak aplikatif katanya. Ini menggambarkan betapa tidak jelasnya apa yang dikarepke pengurus. Ketiga Profesionalisme pengurus, saiki jamane kuwalek, masak syuriyah diperintah tanfidz, kan aneh.
Peng -stilahan yang digunakan pun salah, masak syuriyah disamakan dengan legeslatif dan tanfidz sebagai eksekutif, salah kaprah itu. Syuriyah itu pengambil kebijakan, yang cocok itu “ Syuriyah itu Kiyai dan Tanfidz itu lurah pondok” – ini mendapat sambutan Gerrr dari peserta halqah -. Sekarang yang ada Syuriyah merintah Ngalor tanfidznya Ngidul. Negene kok arep di openi. Jelasnya sambil ketawa hehe. (senthir/kangbadik).
Kedua, Program, saya ingat dulu ketika muktamar terakhir, Mas Slamet menyusun Program kerja NU begitu rapinya, eh malah rak dinggo, karena tidak aplikatif katanya. Ini menggambarkan betapa tidak jelasnya apa yang dikarepke pengurus. Ketiga Profesionalisme pengurus, saiki jamane kuwalek, masak syuriyah diperintah tanfidz, kan aneh.
Peng -stilahan yang digunakan pun salah, masak syuriyah disamakan dengan legeslatif dan tanfidz sebagai eksekutif, salah kaprah itu. Syuriyah itu pengambil kebijakan, yang cocok itu “ Syuriyah itu Kiyai dan Tanfidz itu lurah pondok” – ini mendapat sambutan Gerrr dari peserta halqah -. Sekarang yang ada Syuriyah merintah Ngalor tanfidznya Ngidul. Negene kok arep di openi. Jelasnya sambil ketawa hehe. (senthir/kangbadik).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar