16 Jan 2010

IKM, Belum Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Jepara


Pertumbuhan perekonomian suatu daerah merupakan tolok ukur keberhasilan pembangunan, kerena dampak yang dimunculkan begitu besar terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Tak pelak ini menuntut perhatian yang serius dari pemerintah daerah sebagai pemegang kebijakan.
Sementara itu, kurun waktu terakhir perekonomian Jepara mengalami perumbuhan meski tidak signifikan.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara, disebutkan sector perkoperasian Jepara mengalami kenikan, jumlah koperasi pada tahun 2007 sebanyak 374 unit dan tahun 2008 sebanyak 427 unit, naik sebanyak 53 unit atau 12 persen.
Kenikan jumlah unit ini diharapkan akan berdampak pada peningkatan kekayaan koperasi dari Rp. 51.767.137.200  (2007) menjadi Rp. 68. 017.830.409 (2008) atau sebesar 31.39 persen.
Kondisi positif ini juga diikuti nilai eksport Jepara yang mencapai US $ 109.886.544.23 (2008) naik sebesar 5.51 persen dari US $ 104.146.899.71 (2007). Namun nilai dua tahun (2007 & 2008) mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan nilai pada tahun 2006 yang mencapai US $ 119.097.669.90.
Tiga komoditi yang memberikan sumbangan terbesar adalah Mebel ukir dengan nilai sebesar US $ 100.334.715.94, disusul  komoditi Karet dengan nilai US $ 4.030.911.07 dan plastic dengan nilai US $ 2.521.413.89.
Sedang,Industri kecil menengah (IKM) sebagai soko guru perekonomian, justru menunjukkan geliat yang negative, baik dari jumlah maupun nilai produksi. Jumlah IKM Jepara mengalami penurunan 10.39 persen dari 8.532 (2007) menjadi 7.648 (2008). dengan nilai produksi mengalami penurunan sebesar 4.90 persen dari Rp. 1.650.435.749 (2007) menjadi Rp. 1.569.592.620 (2008).
Angka Kemiskinan
Pertumbuhan ekonomi yang terjadi ternyata, tidak berbanding lurus dengan angka  kesejahteraan masyarakat, berdasar pada hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS-08), angka rumah tangga Sasaran (RTS) miskin per 11 pebruari 2009 sebanyak 85.156, atau 20.3 persen dari total Rumah Tangga 275.937.
Angka ini masih jauh, jika dibandingkan dengan target pemerintah terkait dengan MDGs, yaitu pencapaian  penurunan angka kemiskinan sebesar 8,2 persen sampai dengan akhir 2009.
Kondisi ini menggambarkan, tingkat kerentanan yang tinggi terhadap kenaikan angka kemiskinan masyarakat Jepara. Dengan kata lain pemerintah dalam hal ini harus lebih serius dalam penanggulangan kemiskinan.
Pertanyaannya kemudian adalah siapa penerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi Jepara, kalau pada kenyataanya angka kemiskinan masyarakat Jepara masih setinggi itu? (JS/Badiul)

Tidak ada komentar: