Kota - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Jepara, bersama Pemerintah Kabupaten dan Polres menyelenggarakan peringatan 7 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur, kegiatan ini mengambil tajuk “Doa Bersama Lintas Agama Awal tahun 2010 dan Peringatan 7 Hari Wafatnya Gus Dur” demikian disampaikan Nur Rohman, Ketua Panitia, Kamis (7/1) di Gedung NU Jl. Pemuda 51 Jepara .
Ini merupakan serangkaian kegiatan yag diselenggarakan PC NU Jepara sejak hari pertama meninggalnya Gus Dur. Disamping itu, kegiatan ini juga untuk mengingatkan kembali perjuangan Gus Dur semasa hidupnya, jadi semangatnya adalah bagaimana memetik tauladan dari diri Gus Dur. Jelas Nur Rohman yang juga anggota DPRD peride 2004-2009.
Sementara itu, Gus Nung sapaan akrab Ketua PC NU Jepara KH. Nuruddin Amin menyampaikan, kegiatan ini merupakan wujud dari apresiasi, penghormatan dan kecintaan warga Jepara terhadap Gus Dur terutama warga NU.
Kemarin sekitar 3000 warga datang, memadati halaman Gedung NU, meski hujan mengguyur sejak sore, tapi itu tidak menyurutkan antusias Jamaah untuk datang, ini yang membuat kami bangga dan bahagia. kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu suksesnya kegiatan ini, cerita Gus Nung.
Gus Dur Untuk Jamaah
Gus Dur adalah Ulama besar, ungkap Kapolres Jepara H. Khamdani, Gus Dur juga tokoh besar, dibuktinya pemikiran-pemikiran yang beliau munculkan selama ini untuk kemaslahatan ummat dan keutuhan NKRI.
Sedangkan KH. Ahmad Sya’roni dalam cerahmanya menyampaikan, bahwa Gus Dur itu adalah seorang ulama, cendikiawan sekaligus negarawan yang tidak hanya milik warga NU, tapi milik rakyat Indonesia.
Saya melihat selama hidupnya, Gus Dur mencurahkan pemikiran dan ide-idenya untuk Bangsa dan Negara ini, terutama kaitanya dengan pelaksanaan demokrasi dan praktik pluralisme. Jadi bukan hal yang berlebihan jika kemudian Gus Dur menyandang gelar bapak bangsa dan bapak pluralisme.
KH. Ahmad Sya’roni mencontohkan, Gus Dur itu tokoh dan pelindung kaum minoritas, ketika Inul dihujat sama Roma Irama karena goyang ngebornya, justru Gus Dur malah membelanya. Ini dipandang aneh oleh beberapa orang, tapi itu dilakukan Gus Dur, dan “Isih akeh maneh conto-conto liyane”. Terang Mbah Sya’roni sapaan akrab Kiyai karismatik dari Kudus ini. (JS/Badiul)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar